RANCANGAN GREENHOUSE PRODUKSI TOMAT

Posted on December 4th, 2013 by ilham.mujahidin10.
Categories: Academic.

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ii
DAFTAR GAMBAR ii
PENDAHULUAN 2
DESKRIPSI MASALAH 4
ANALISIS DAN DESAIN 4
Analisis Dimensi Greenhouse 4
Penentuan Ukuran dan Luasan Lantai Greenhouse 4
Penentuan Tinggi Atap, Luasan Bukaan Ventilasi Bubungan dan Tinggi Total Greenhouse 7
Desain Greenhouse 9
HASIL DAN PEMBAHASAN 11
DAFTAR PUSTAKA 12

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Spesifikasi Teknik Rancangan Greenhouse 6
Tabel 2 Dimensi Greenhouse 8

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Bentuk Penampang Melintang Rumah Tanaman 2
Gambar 2 Jarak Tanam Buah Tomat dan Titik Penempatan Polybag 4
Gambar 3 Rancangan Greenhouse Tampak Isometri 9
Gambar 4 Rancangan Greenhouse Tampak Depan 9
Gambar 5 Rancangan Greenhouse Tampak Atas 9
Gambar 6 Rancangan Greenhouse Tampak Samping 10

PENDAHULUAN
Greenhouse dapat diartikan sebagai rumah tanaman yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari faktor lingkungan yang akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Pada mulanya greenhouse diciptakan untuk melindungi tanaman dari suhu dingin pada daerah subtropis dengan prinsip pemerangkapan panas. Pada perkembangannya, greenhouse telah dimodifikasi untuk dapat diaplikasikan pada daerah tropis yaitu dengan mengganti fungsi memerangkap panas menjadi melindungi tanaman dari guyuran air hujan dan serangan dari serangga. Perbedaan fungsi dari kedua jenis greenhouse ini tentunya akan mengakibatkan perbedaan dari fungsi struktural greenhouse.
Suatu bangunan greenhouse dapat berfungsi dengan baik jika sebelum pembuatan telah dilakukan perancangan greenhouse. Salah satu perancangan greenhouse yang paling penting adalah dimensi daripada greenhouse. Dimensi greenhouse akan menentukan kapasitas atau seberapa banyak tanaman yang dapat ditanam dalam greenhouse. Perancangan suatu dimensi greenhouse harus mempertimbangkan beberapa hal seperti jarak tanam, tinggi maksimum yang dapat dicapai oleh tanaman, jarak lintasan pekerja, dan lain sebagainya. jarak tanam dan jarak lintasan pekerja akan menentukan luasan lantai dari greenhouse dan tinggi maksimum yang dapat dicapai oleh tanaman akan menentukan volume dari greenhouse. Pemilihan jenis greenhouse harus dipertimbangkan oleh seorang desainer yang akan menentukan bentuk dan fungsi dari suatu greenhouse. Pengetahuan akan spesifikasi teknis seperti bahan konstruksi dan dimensi greenhouse merupakan dasar daripada pemilihan jenis greenhouse yang akan digunakan.
Bentuk konstruksi rumah tanaman yang ada pada saat ini bermacam-macam salah satunya yang paling banyak digunakan adalah even span greenhouse atau standard peak atau disebut juga gable. Atap rumah tanaman jenis ini dari depan terlihat berbentuk segitiga sama sisi. Dinding rumah tanamannya tegak dengan bentuk atap miring. Rumah tanaman tipe ini banyak dimodifikasi dan digunakan pada skala komersial, diantaranya bentuk venlo house. Venlo house digunakan di Eropa dengan tiga atau empat atap gable dalam satu bentang. Karena venlo house seringkali mempunyai bentang yang sangat lebar maka pada beberapa posisi, konstruksi atap didukung dengan tiang.

Gambar 1 Bentuk Penampang Melintang Rumah Tanaman

Berdasarkan biaya konstruksi per meter persegi, rumah tanaman dapat dikategorikan dalam tiga klasifikasi yaitu biaya konstruksi rendah, sedang, dan tinggi. Rumah tanaman dengan biaya konstruksi rendah memiliki cirri antara lain strukturnya sederhana dengan konstruksi bahan lokal yang tersedia di kawasan beriklim tersebut. Bambu dan kayu adlaah bahan yang banyak digunakan di Indonesia untuk low cost greenhouse karena harganya yang relatif murah sebagai bahan penutup digunakan plastik film. Ventilasi alamiah sebaiknya dimanfaatkan secara maksimum sehingga tidak diperlukan peralatan khusus untuk mengendalikan kondisi lingkungan dalam rumah tanaman. Rumah tanaman dengan biaya konstruksi sedang biasanya menggunakan besi sebagai rangkanya. Selain itu, digunakan beberapa peralatan tertentu, seperti exhaust fan, evaporative pad, dan instalasi pengkabutan. Peralatan tersebut dikendalikan secara manual atau semi otomatik untuk menjaga kondisi lingkungan di dalam rumah tanaman. Rumah tanaman dengan biaya konstruksi tinggi biasanya menggunakan bahan konstruksi kuat dan tahan lama. Rumah tanaman dengan konstruksi ini dilengkapi sistem kendali otomatik menggunakan berbagai sensor dan dikendalikan oleh komputer.

DESKRIPSI MASALAH
Salah satu aspek penting dalam perancangan sebuah greenhouse adalah penentuan dimensi dari greenhouse dan bentuk konstruksi greenhouse. Penentuan dimensi greenhouse ditentukan oleh kondisi dari tanaman dalam pertumbuhan seperti jarak tanam, kapasitas tanaman, dan tinggi maksimum tanaman. Pada perancangan greenhouse kali ini akan dibuat sebuah greenhouse untuk produksi buah tomat yang berkapasitas 1000 buah tomat. Setiap bibit tomat yang ditanam di dalam greenhouse tersedia dalam bentuk polybag dengan ukuran penampang atasnya 35 x 40 cm. Bibit tomat yang terdapat pada polybag ditempatkan dan ditata dalam greenhouse sesuai dengan jarak tanam yang diinginkan. Pada umumnya jarak tanaman antar bedengan kurang lebih 100 cm dan jarak tanaman tiap bedengan kurang lebih 50 cm. Greenhouse yang akan dirancang harus menggunakan tipe atap Single-span Standard Peak Greenhouse. Bahan konstruksi yang akan digunakan adalah bahan konstruksi dengan menggunakan kayu atau bambu dengan dinding greenhouse terbuat dari kasa plastik transparan. Ketinggian maksimum pohon tomat dapat mencapai ketinggian 170 cm.

ANALISIS DAN DESAIN
Analisis Dimensi Greenhouse
Penentuan dimensi greenhouse yang akan dilakukan adalah berdasarkan pada optimasi dari luasan lantai greenhouse dengan menggunakan persamaan lagrange.

Penentuan Ukuran dan Luasan Lantai Greenhouse

Diketahui :
Jumlah Tanaman dalam Greenhouse = 1000 buah
Ukuran Polybag (Penampang Atas) = 40 x 35 cm
Diameter Polybag = 35 cm
Tinggi Polybag = 40 cm
Jarak Tanaman antar bedengan = 100 cm
Jarak Tanaman tiap bedengan = 50 cm
Ditanya : Luasan minimum greenhouse ?
Jawab :
Penentuan dimensi panjang dan lebar greenhouse didasarkan pada total luasan tanaman dan space yang dekat dengan dinding. Penentuan luasan tanaman tidak mempertimbangkan dimensi dari polybag dan hanya fokus pada jarak tanam yaitu jarak tanaman antar bedengan dan jarak tanaman tiap bedengan. Polybag beserta tanaman dalam penempatannya dalam greenhouse hanya ditata pada titik-titik penaman yang telah ditentukan optimasinya.

Gambar 2 Jarak Tanam Buah Tomat dan Titik Penempatan Polybag
Optimasi Lagrange
Fungsi Tujuan : Luasan minimum greenhouse
L= Lebar x Panjang
L=(100(x-1)+200)(50(y-1)+200)
L=(100x+100)(50y+150)

Keterangan :
200 adalah total jarak antar bedengan dengan dinding pada sebelah kanan dan kiri serta sebelah depan dan belakang greenhouse
x adalah jumlah tanaman antar bedengan dan y adalah jumlah tanaman tiap bedengan

Fungsi Kendala :
xy=1000
y=1000/x
Q=y-1000/x

Persamaan Lagrange :
LE=(100x+100)(50y+150)+λ(y-1000/x)
LE=5000xy+15000x+5000y+15000+λ (y-1000/x)
Agar tercapai titik yang optimum maka persamaan lagrange harus diturunkan terhadap x,y, dan λ dan sama dengan nol
∂LE/∂x=0
5000y+15000+1000λ/x^2 =0…..(persamaan 1)

∂LE/∂y=0
5000x+5000+λ=0
λ=-5000(1+x)…..(persamaan 2)

∂LE/∂λ=0
y=1000/x…..(persamaan 3)
Persamaan 2 dan persamaan 3 disubtitusikan ke dalam persamaan 1

5000(1000/x)+15000+1000((-5000(1+x)))/x^2 =0
x^2=5000000/15000
x=18.26≈19
xy=1000
y=1000/19
y=52.6≈53
Sehingga :
jumlah tanaman antar bedengan sejumlah 19 buah dan jumlah tanaman tiap bedengan sejumlah 53 buah.
Jarak polybag antar bedengan 65 cm dan jarak polybag tiap bedengan 10 cm

Lebar bangunan greenhouse
Lebar=(100×19)+100)=2000 〖cm〗^2

Panjang bangunan greenhouse
Panjang=(50×53)+150=2800〖 cm〗^2
Luasan Greenhouse minimum
Luas=2000×2800=5600000〖 cm〗^2
Luas=560 m^2
Tabel 1 Spesifikasi Teknik Rancangan Greenhouse

Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa greenhouse yang akan dirancang termasuk dalam ukuran rumah kasa yang besar sehingga dimensi dari tinggi ruang tanaman digunakan 4 meter dan tinggi dinding dasar greenhouse digunakan 0.5 meter.

Penentuan Tinggi Atap, Luasan Bukaan Ventilasi Bubungan dan Tinggi Total Greenhouse

Greenhouse tipe standard peak mempunyai sudut kemiringan atap berkisar anatar 25 – 35˚ (Suhardiyanto 2002). Berdasarkan praktikum Teknik Greenhouse dan Hidroponik yang telah dilakukan, didapatkan bahwa sudut optimum kemiringan atap greenhouse adalah 30˚ karena pada sudut tersebut optimum dalam mentransmisikan radiasi matahari.

tan⁡〖30°=t/10〗
t=0.577×10=5.77 m

Sehingga tinggi atap segitiga bangunan greenhouse adalah 5.77 meter
Menurut suhardiyanto 2002, luas total bukaan ventilasi = luas bukaan ventilasi dinding + luas bukaan ventilasi bubungan. Luas total bukaan ventilasi adalah 60% dari luas greenhouse.
Luas total bukaan ventilasi=60% x luas greenhouse
=60% x (28×20)
=336 m^2
Luasan ventilasi dinding=2x tinggi ruang tanamanx panjang GH
=2 x4 x28
=224 m^2
Luas Bukaan Ventilasi bubungan=336-228
=112 m^2
Karena greenhouse tipe standard peak mempunyai dua sisi ventilasi bubungan, maka setiap sisi bukaan ventilasi bubungan memiliki luas 56 m2. Dari luasan bukaan ventilasi yang telah diperoleh dapat ditentukan tinggi dari atap segitiga atas
56 m^2=panjang GH x ta
=28 x ta
ta=56/28=2 m
Penentuan dimensi terakhir adalah dimensi dari tinggi dan lebar pintu greenhouse, tinggi tepian atap, dan lebar atap segitiga atas. Dimensi tinggi pintu yang digunakan adalah 2 meter. Penentuan 2 meter didasarkan pada tinggi maksimum orang Indonesia (persentil 95%) dan dimensi lebar pintu adalah 1 meter.
Tinggi tepian atap dipilih 3 meter karena berdasarkan pada SNI 7604:2010 bahwa tinggi tepan atap minimum 2.4 meter. Penentuan lebar atap segitiga atas dihitung dari 1/3 dari lebar greenhouse sehingga lebar atap segitiga = 20/3 = 6.67 m

Desain Greenhouse
Dari hasil analisis dimensi yang telah dilakukan sebelumnya, maka greenhouse siap dibangun dengan menggunakan software desain dan analisis yaitu SolidWork 2011 dengan berdasarkan dimensi-dimensi yang terdapat pada tabel berikut :
Tabel 2 Dimensi Greenhouse
No Bagian Greenhouse Satuan Ukuran
1 Lebar Greenhouse meter 20
2 Panjang Greenhouse meter 28
3 Tinggi dasar Greenhouse meter 0.5
4 Tinggi ruang tanaman meter 4
5 Tinggi atap segitiga meter 5.77
6 Tinggi atap segitiga atas meter 2
7 Tinggi total greenhouse meter 12.27
8 Lebar pintu meter 2
9 Tinggi pintu meter 2
10 Tinggi tepian atap meter 3
11 Lebar atap segitiga atas meter 6.67

Pemilihan bahan konstruksi greenhouse didasarkan pada indeks pembobotan antara berbagai jenis kayu yang ada di pasaran. Berdasarkan pembobotan mengenai kekuatan, ketahanan, kehandalan maka dipilih kayu jenis mahoni. Jenis atap yang digunakan adalah akrilik. Akrilik bersifat ringan, mudah digunakan serta tahan terhadap sinar UV dan cuaca. Akrilik dapat mentransmisikan PAR 83% untuk penggunaan dua lapis dan 93% untuk penggunaan satu lapis. Umur pakai akrilik adalah sekitar 20 tahun.

Gambar 3 Rancangan Greenhouse Tampak Isometri

Gambar 4 Rancangan Greenhouse Tampak Depan

Gambar 5 Rancangan Greenhouse Tampak Atas

Gambar 6 Rancangan Greenhouse Tampak Samping
HASIL DAN PEMBAHASAN
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari optimasi dimensi greenhouse adalah pendefinisisan fungsi tujuan dan fungsi kendala. Kesalahan pendefinisian akan menyebabkan hasil dimensi yang diperoleh tidak optimum seperti luasan lantai greenhouse. Penentuan panjang dan lebar greenhouse dipengaruhi oleh optimasi luasan tanaman yang dapat memenuhi ruangan greenhouse. Pada perhitungan luasan greenhouse di atas, dimensi dari pada polybag tidak diperhitungkan. Space yang berada pada polybag tidak mempengaruhi luasan greenhouse karena sudah diperhitungkan dalam pendefinisian fungsi tujuan. Perhitungan didasarkan pada titik-titik tanaman yang ditentukan oleh jarak tanam baik jarak tanaman antar bedengan maupun jarak tanaman tiap bedengan. Optimasi titik-titik tanaman tersebut akan menjadi penempatan polybag-polybag yang berisi tanaman.
Penentuan luasan greenhouse juga dipengaruhi oleh standard ukuran luasan bangunan greenhouse yang sesuai jenis dan bahan konstruksinya. Seorang desainer dalam merancang luasan greenhouse tidak boleh hanya berpusat pada optimasi luasan tetapi juga perbandingan panjang dan lebar sesuai standard yang ada. Sangat dimungkinkan terjadi luasan yang optimum tetapi panjang greenhouse yang terlalu panjang dan lebar yang terlalu kecil. Pada rancangan di atas, perbandingan panjang dan lebar tidak terlalu besar dan tidak berdasarkan pada standard greenhouse yang ada. Pendefinisian fungsi kendala dapat ditambah mengenai perbandingan panjang dan lebar seperti pada standard greenhouse yang ada dimana panjang dua kali lebar agar tercapai luasan yang optimum dan sesuai dengan standard yang ada.
Pemahaman mengenai studi literatur juga dapat membantu dan mendukung dalam proses perancangan seperti karakteristik bahan konstruksi, bahan atap, kemiringan atap segitiga, tinggi tepian atap, tinggi pintu sesuai antrhropometri manusia, dan lain sebagainya. Perancangan greenhouse yang baik selain menentukan dimensi yang optimum juga harus sesuai dengan karakteristik standar greenhouse yang ada dan dengan dukungan studi literatur yang mempengaruhi fungsi dari greenhouse.

DAFTAR PUSTAKA
Suhardiyanto, Hery. 2009. Teknologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika Basah. Bogor : IPB Press

Yuwono, Arief Sabdo, et all. 2006. Profil Iklim Mikro dan Konstruksi Greenhouse. Skripsi. Bogor. IPB Press

0 comments.

cerita inspirasi orang lain

Posted on September 15th, 2010 by ilham.mujahidin10.
Categories: Academic.

ILHAM MUJAHIDIN

F14100025

LASKAR 10 / PANJI 2

CERITA INSPIRASI ORANG LAIN

Sebenarnya saya tidak suka terinspirasi oleh orang lain. Saya anggap apa yang dipunyai orang lain saya jadikan sebagai referensi saja bukan secara total ditiru. Jati diri kita bakal diragukan.hehe

Tokoh yang paling saya kagumi adalah pendaki terkenal dunia dengan keterbatasannya yakni Erick Weihenmayer. Meskipun ia punya keterbatasan dengan tak mampu melihat atau dikatakan tunanetra, dia tetap semangat bereksplorasi ke penjuru dunia menjajal semua gunung yang bukan sembarang gunung.

Berikut beberapa sekelumit eksplorasinya di beberapa gunung dunia

Pada tanggal 25 Mei 2001, Erik Weihenmayer menjadi satu-satunya orang tunanetra dalam sejarah yang dapat mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Puncak Everest.

Pada tanggal 20 Agustus 2008, ketika ia berdiri di puncak gunung Carstenz Pyramid di Papua, puncak gunung tertinggi di belahan Austral-Asia, Weihenmayer menyelesaikan perjuangannya mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua.

Erik hanya diikuti oleh kurang dari 100 orang pendaki gumung yang berhasil mencapai prestasi hebat ini. Tambahan pula, ia telah mendaki El Capitan, gunung batu monolit granit yang curam setinggi 3300 kaki di Yosemite,dan juga Lhosar,tebing air terjun dengan bekuan es setinggi 3000 kaki di daerah Himalaya, dan tebing batu curam yang paling sulit dan jarang didaki setinggi 17.000 kaki di Kenya.

Erick juga pernah mengikuti olah raga ekstrim dunia yakni

Di bulan September 2003, Erik bergabung dengan 320 bintang atlit dari 17 negara untuk berlomba pada Primal Quest, petualangan dalam berbagai jenis olahraga yang paling keras; 457 mil melalui Sierra Nevada, sembilan hari, 60.000 kaki di antaranya melewati daerah pegunungan, dan tidak ada waktu jeda.Dengan tidur hanya rata-rata dua jam perhari, Erik dan timnya menerobos masuk garis finis di Danau Tahoe, yang menjadi salah satu dari 42 tim yang mencapai garis finish dari 80 tim yang mengikuti start.

Prestasi pendakian gunung Erik telah menganugerahinya dengan penghargaan ESPY, sebuah penghargaan dari majalah Time bagi seorang atlit terbaik di tahun 2001.Selain itu ia mendapatkan kehormatan ketika namanya diabadikan di “National Wrestling Hall of Fame”, dan mendapatkan penghargaan ARETE untuk prestasi atlit luar biasa di tahun itu, ia juga meraih penghargaan “Helen KellerLifetime Achievement”,dan penghargaan Casey Martin dari Nike, dan penghargaan “Freedom Foundation’s Free Spirit”. Ia juga diberi kehormatan untuk membawa obor Olimpiade musim panas dan musimdingin.

Itulah sekelumit kehidupan Erick yang mengundang dejuk kagum bagi yang mengetahui apa saja yang dimilikinya baik semangatnya atau bahkan prestasi-prestasi yang dimilikinya. Dari situ saya terinspirasi mengikuti jejak langkahnya. Dia saja yang diberi cobaan dengan keterbatasan tetap semangat maka dari itu saya yang telah diberi anggota tubuh yang lengkap dan sehat harus bisa lebih semangat darinya.

Saya telah mendapat pelajaran “ Jangan menyerah pada keadaan. Jadikan kekurangan yang dimiliki sebagai motivasi diri untuk menunjukkan kelebihan yang kita miliki. Karena sesungguhnya Tuhan menciptkan manusia dengan sisi lebihnya dan sisi kurangnya”.

0 comments.

cerita inspirasi diri sendiri

Posted on September 15th, 2010 by ilham.mujahidin10.
Categories: Academic.

ILHAM MUJAHIDIN

F1410025

LASKAR 10 / PANJI 2

CERITA INSPIRASI DIRI SENDIRI

Sebelum bercerita, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Saya ilham mujahidin. Saya asalnya dari klaten, lulusan SMA N 1 Klaten. Saya anak ke-4 dari empat bersaudara. Jadi dapat dikatakan saya anak bontot. Anak yang bakalan jadi anak yang selalu disuruh-suruh.

Berbicara cerita inspirasi, saya belum ada gambaran cerita apa yang musti saya utarakan. Namun sedikit sajalah cerita dari saya yang mungkin dapat menginpirasi temen-temen atau kakak-kakak yang membaca. Ini mengenai pengalaman saya berkecimpung dalam dunia ke organisasian, khususnya organisasi pecinta alam.

Organisasi ini bernama EMAPAL. Kependekan dari Emansipasi Pecinta Alam. Organisasi yang berkecimpung dalam dunia kepecintaalaman. Memiliki banyak divisi. Seperti Divisi Rock Climbing, Divisi Caving, Divisi Konservasi, dan Divisi Gunung Hutan. Dan katanya, EMAPAL akan menambah satu divisi lagi yakni Diving. Semoga terlaksana. Aminn

Saya mengenal sepintas EMAPAL ketika ada MOS. EMPAL dulu memperkenalkan organisasinya dengan menampilkan panjat, rappeling, rappoling. Sungguh sangat terpukau sekali saya melihat itu semua. Ditambah orang-orangnya yang sangar dan terlihat keren.hehe.

Akhirnya teh saya memutuskan untuk ikut dalam organisasi ini. Di kelas 10, saya belum masuk dalam keorganisasian karena saya masih angkatan muda yakni calon angkatan 22. Yang mana untuk menjadi anggota tetap EMAPAL butuh serangkaian acara yang musti diikuti seperti diklat,dikjut, dan yang terakhir wajib gunung.

Saat kelas 10 saya masih belum tahu EMAPAL itu apa. Yang saya lakukan kelas 10 yakni datang, ngikuti kegiatan, senang-senang lalu pulang. Namun pandangan saya berubah ketika saya mengikuti diklat. Bukan rahasia lagi kalau istilah ”diklat” merupakan momok yang menakutkan dan butuh fisik serta mental baja untuk bisa menjalaninya. Saat mengikuti diklat pandangan saya akan camping gembira saja. Ternyata didalamnya ****** ”maaf tidak bisa saya jelaskan, karena merupakan privasi yang tak boleh untuk dipublisasaikan”. Intinya saya hampir KO saat diklat. Namun momen yang paling tak bisa kulupakan adalah kebersamaan istilahnya Korsa. Disini saya mengenal keluarga saya yakni 22 begitu dekat dan erat. Karena saat diklat diajarkan saling berbagi dan saling menanggung baik susah atau senang.

Saat kelas 11 dan 12, saya sudah masuk organisasi. Saya dipercaya menjadi bagian dari divisi caving atau susur gua. Disini saya mendapat ilmu cara memakai SRT set untuk susur gua khususnya gua vertikal. Juga tahu cara menggunakan SRT set buat naik atau turun gua. Materi ini bekal untuk menularkan ilmu ke angkatan dibawah saya yakni 23. Saya baru tahu kalau EMAPAL teh banyak kegiatannya. Seperti Ultah EMAPAL, Lomba Panjat, Reboisasi dan masih banyak lagi.Disini saya mendapatkan ilmu atau bisa dibilang kata mutiara “ Dalam mengadakan suatu kegiatan, jangan dilihat dari hasilnya, melainkan prosesnya”. Kata alumnus aktif EMAPAL Aditya Lukistanto. Jadi dapat diartikan, kegiatan dimana prosesnya amburadul seperti proposalnya,atau anggaran namun hasilnya bagus, lebih buruk daripada kegiatan yang prosesnya rapi,terprogram dan hasilnya kurang memuaskan. Disini saya mengiyakan kata mas ocenk ( panggilannya). Karena jika kita sudah terbiasa dengan prosesnya yang tertata, membuat kegiatan-kegiatan selanjutnya akan menghasilkan proses dan hasil yang bagus pula.

Selain mendapat ilmu keorganisasian, saya juga mendapat hangatnya kekeluargaan dari angkatan tertua saya baik dari 21 sampai angkatan 15. Kebiaasan kakak alumnus yang sering ngajak makan-makan dan ngasih wejangan membuat saya betah di EMAPAL.

Jadi, saya mengajak teman-teman untuk turut partisipasi dalam organisasi. Meskipun awalnya untuk beradaptasi sangat sulit namun jika kita sudah terbiasa dan senang melakukannya dijamin didalamnya kita akan mendapatkan apa yang belum pernah didapatkan seperti yang saya dapatkan kekeluargaan , ilmu kepecinta alaman dan masih banyak lagi. Bisa dibimbing dari alumnus bahkan dapat dibantu dalam wujud apapun. Jadi kagag rugi deh ngikutin organisasi.hehe

* Kalau memang ingin ikut dalam organisasi sedikit nasehat dari saya. Yakinkan organisasi yang akan anda ikuti akan memberi dampak positif bagi anda, jika tidak mending jangan ikut organisasi saja. Terima kasih*

0 comments.